“MENGAWAL PERJALANAN STM STRADA
LEWAT JARINGAN KERJASAMA YANG KOMPAK”
Catatan 1 : Pengorbanan yang membuahkan
Kepada Panitia,
Perkenankanlah saya menulis beberapa catatan saya.
Sama dengan teman-teman lain. Saya menyampaikan salut buat seluruh anggota panitia yang telah berhasil mengorganisir perayaan 40 tahun STM Strada dengan baik. Kalau ada kekurangan disana-sini, tentu ini bisa dimaklumi. Kehadiran sekitar 700 orang merupakan salahsatu indikatornya. Dan ini adalah awal yang bagus untuk menapak langkah berikutnya.
Sekali lagi selamat untuk keluarga besar STM Strada. Secara khusus untuk panitia. Pengorbanan anda telah membuahkan.
Turun dari mobil, romo dikerumuni banyak orang. Tidak jelas betul siapa saja mereka. Saya menduga diantara mereka adalah para alumni, umat di paroki Pademangan dan Sunter, dan tentu saja para pengelola sekolah ini. Setelahnya romo diantar menuju bengkel yang ada di STM Strada oleh Pak Wina dan Pak Harto.
Mulai dari Elektronika, Otomotif, Listrik dan Produksi. Kesempatan yang baik buat saya. Saya ikuti terus kemana romo berjalan. Tak lain mengambil foto-foto yang tentu saja menarik. Kedekatan emosional saya dengan beliau dan tak asingnya saya dimata beliau, menguntungkan saya saat itu. Tak perlu keraguan untuk mengambil foto-foto yang saya pikir akan saya kirimkan ke beliau nantinya. Ada beberapa yang menarik. Pertama, ingatan beliau yang prima. Misalnya di bengkel Otomotif, ia mengatakan: "Mesin ini saya beli dengan harga Rp 300.000,-". Ia juga menanyakan apakah mesin-mesin itu masih dapat berfungsi dengan baik?. Ia juga memperhatikan dengan serius panel yang ada di bengkel Elektronika. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Ketika di bengkel Produksi, romo berpapasan dengan seorang ibu paruh baya. Dengan ramah ia sapa ibu ini. Saya pikir ibu ini adalah pegawai di sekolah ini. Itulah romo yang saya kenal. Dekat dengan orang kecil, penuh perhatian, ingatan yang kuat dan rendah hati...
Catatan 3 : Pelaku sejarah itu bicara tentang awal berdirinya STM Strada
Perayaan Ekaristi akan ditutup dengan berkat. Romo Opzeeland diberi kesempatan untuk bicara. Apa yang disampaikannya? Beliau menceritakan kembali awal mula berdirinya STM Strada. Penyelenggaraan Ilahi telah bekerja untuk mewujudkan impiannya. Membangun sekolah teknik yang dapat membantu kaum muda. Kaum muda terutama dari golongan tidak mampu. Dan saya termasuk didalam daftarnya. (Baca : Profil Romo Opzeeland yang saya tulis di website STM Strada). Ada yang menarik ketika romo bicara. Suasana yang tadinya kurang tertib menjadi hening. Pemegang kamera digital untuk foto dan video menyerbu ke depan. Untuk apa? Mendengar dan mengabadikan secara langsung, pelaku sejarah berdirinya STM Strada. Tak tahu apa yang dirasakan romo Opzeeland ketika ia harus bicara saat itu. Romo yang nanti tanggal 28 Mei genap berusia 80 tahun...
Catatan 4 : Alumni di mata Romo Opzeeland
Ketika dialog yang berlangsung sejak pukul 13.00-15.00, antara alumni, pimpinan sekolah dan Romo Opzeeland, Romo Opzeeland bicara tentang alumni. "Ordo Yesuit identik dengan ordo pendidikan. Mengapa lembaga-lembaga pendidikan milik Yesuit di seluruh dunia dinilai maju? Salah satunya adalah karena pemberdayaan alumni yang berhasil". Pernyataan yang cukup inspiratif...
Catatan 5 : "Wong cilik supaya mletik"
"SMK Strada hadir ditengah masyarakat berusaha untuk menjadi alter Christus yaitu, wong cilik supaya mletik...," demikian sepenggal alinea pada sambutan bapak Kepala SMK Strada. Menurutnya itu juga yang selalu menjadi perhatian Romo Opzeeland. Itu saya alami ketika saya masuk ke sekolah ini. Pada cicilan kesekian, ayah saya datang untuk memenuhi janjinya. Membayar kekurangan yang masih harus kami
bayar. Ketika bertemu dengan Romo Opzeeland, apa yang dia lakukan. "Bapak.. saya terima uang ini. tapi tolong titip uang ini untuk ibu di rumah ya," demikian Romo Opzeeland. Tak jadilah ayah saya ke kantor administrasi untuk memenuhi janjinya. Pengalaman lain adalah ketika saya duduk di kelas II. Seorang teman sekelas lama tidak hadir di sekolah. Selidik punya selidik, ternyata teman ini sedang sakit. Ketika saya ke rumahnya (ternyata teman ini tidak tinggal di rumah, tapi di langgar = mesjid kecil). Ia dibeayai kakaknya yang hanya penjual gorengan pikul (sekarang gerobak). Menurut teman ini, kakaknya sudah tidak sanggup membayar uang sekolah. ... Dan Romo Opzeeland memenuhi komitmennya... Teman ini akhirnya tetap sekolah dan menyelesaikan studinya dengan berhasil...Dan saya masih kerap kontak dengan teman saya ini.
Catatan 6 : Koq rasanya kurang adil ya...
Jujur saya kurang tahu bahkan tidak tahu banyak tentang perkembangan STM Strada. Mungkin sama dengan sebagian besar teman-teman yang hadir pada dialog di ruang B.
Hampir semua alumni menyoroti soal masa lalu dan masa kini. Sarana dan prasarana yang masih sama, padahal waktu sudah lewat 20, 30 tahun. Sebagian yang lain bercerita tentang kesuksesan karir dan keluarganya yang katanya itu tak lepas dari jasa sekolahnya. Saya pikir emosional sesaat wajar-wajar saja. Mungkin mereka dan saya yang 30 tahun tak pernah menengok sekolah ini menjadi kaget. Apa yang dipikirkan semalam sungguh berbeda dengan kenyataan yang dilihat. Toilet, kantin dsbnya masih sama. Peralatan praktek masih sama. Tapi setelah saya merenung, akhirnya saya menemukan jawabannya. Mungkin salah?
Sebuah sekolah kejuruan apalagi teknik, sungguh beda dengan sekolah umum. Membangun dan mengelola sekolah kejuruan teknik membutuhkan beaya yang berlipat dibanding dengan sekolah umum (SMA). Bisa 2, 3, 4 atau bahkan 5 kali lipat. Sementara itu, yang datang ke sekolah ini belum tentu kaum muda dari golongan mampu. (Baca Catatan No 5). Mengganti peralatan menjadi baru bukan hal yang sulit. Masalahnya adalah, dana dari mana? Jadi benar juga apa yang dikatakan pak Kepala Sekolah. "Tentu kita juga harus bersyukur, bahwa peralatan yang usianya 20, 30 tahun itu masih dapat digunakan untuk proses belajar mengajar". Sampai di rumah saya mengeluh. Kenapa saya dan teman-teman koq kurang adil ya... Hanya bisa bicara tanpa tahu mengapa bisa demikian... Maaf kalau pendapat saya ini salah!
Catatan 7 : STM Strada "milik" kita!
Tak pernah ada sekolah yang bisa berumur 40 tahun jika tidak didukung masyarakatnya.
STM Strada tidak pernah meninggalkan "masyarakatnya" selama 40 tahun. Ia telah banyak mengangkat harkat manusia, yang diantaranya adalah saya dan teman saya (Baca Catatan No. 5).
STM Strada juga "milik" masyarakat. Masyarakat terlebih kita, punya kewajiban yang sama untuk ikut bersama sekolah ini mengusahakan kemajuan sekolah kita. Agar dapat terus mengangkat harkat kaum muda yang lainnya.
Sebagai sekolah Katolik, STM Strada juga adalah milik Gereja. Milik komunitas umat beriman (baca iman Katolik). Gereja diajak untuk "MENGURBANKAN APA SAJA DEMI MEMBANTU SEKOLAH KATOLIK AGAR DAPAT MELAKSANAKAN TUGASNYA MAKIN HARI MAKIN SEMPURNA…" (Petikan Dokumen Konsili Vatikan II, GE art 9).
Catatan 8 (terakhir) : Yuk... kita bergandengan tangan...
Sabtu, 9 Mei 2009 adalah awal kebangkitan baru STM Strada. Susah payah panitia membuahkan hasil. Kehadiran 700 orang, bisa menjadi awal yang baik. Mengawal perjalanan STM Strada menuju yang lebih sempurna. Bersama semua pihak. Alumni, masyarakat, orangtua siswa dan semua siswa, Gereja, penyelenggara dan pengelola STM Strada. Mari bergandeng tangan…Hidup STM Strada!
Akhirnya, saya sampaikan salam hormat saya untuk Romo H van Opzeeland SJ, Romo Ignatius Sumaryo SJ, Bapak/Ibu Pimpinan Penyelenggara dan Pengelola STM Strada, Bapak/Ibu Panitia HUT 40 Tahun STM Strada.
Terima kasih untuk Pengasuh Rubrik Kabar Jakarta di Majalah HIDUP yang telah mempercayai saya meliput Peringatan 40 Tahun STM Strada.
Salam
Yohannes Sugiyono Setiadi
( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )
| < Prev | Next > |
|---|







