Alangkah prihatim hatiku.............
Betapa tidak, lha wong mau sekolah tehnik kok malah berhitung biasa saja nggak menguasai.
Orang tua malah berpendapat : sebab anaknya nggak bisa matematika , nggak tertarik matematika maka disuruh masuk STM saja.
Wah, celaka, BLAIK kata orang Jawa, atau cialat ........
Betapa tidak lagi..... lha wong semua jurusan tehnik itu harus memiperhitungkan, harus menghitung, perlu asahan otak yang logis kok. Lha kok malah nggak mau menghitung.
Masih banyak yang lulusan SMP, perkalian dasar 1 sampai 100 itu tidak hapal luar kepala.!
Harusnya anak SD kelas 3 harus hafal perkalian dasar itu. Kalau nggak apal nggak bisa naik kelas ! Begitu di zaman Belanda.
Sekolah zaman Belanda kelas 2 SD tok (sekolah ongko loro) berhitungnya mateng!
Setelah lulus "sekolah ongko loro" , nggak boleh terus sekolah. Belanda takut rakyat pada pinter.
Maka yang boleh meneruskan sekolah syaratnya ketat a.l :
- anak dari pegawai negri
- anak pejabat: lurah, camat, wedono , bupati dsb
- anak dari guru sekolah negri.
Sebab dengan begitu yang pandai diharap bisa membantu Belanda.
Namun ternyata pejuang2 kita timbul dari para terpelajar, seperti Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, Muh.Yamin dsb.
Segini dulu, besok diteruskan.
Pak Dar.
| Next > |
|---|







